Kisah Ayah Jual Ginjal demi Pengobatan Anaknya Sakit Epilepsi dan Lumpuh


Kisah seorang ayah yang menjual ginjalnya demi biaya pengobatan anaknya.

Rahmat (35) rela menjual ginjalnya untuk biaya pengobatan anaknya yang sakit epilepsi dan lumpuh.

Sebelumnya, Rahmat telah kehilangan 2 anaknya lantaran masalah yang sama.

Tak ingin hal yang sama terjadi, dirinya rela menjual ginjalnya untuk anaknya.

Anak Rahmat bernama Siti Rahayu (7) menderita disabilitas dan epilepsi akibat panas tinggi yang dialami saat berusia 9 bulan.

Dilansir TribunMedan.com, Rahmat nekat menjual ginjal di perempatan Jalan Simpang Kampung Lalang, Kecamatan Medan Sunggal, Medan, Sumatera Utara.

Rahmat diketahui bekerja sebagai satpam di sebuah kompleks perumahan yang memiliki gaji pas-pasan.

Gaji per bulan hanya Rp 1,1 juta, sedangkan untuk biaya pengobatan anaknya mencapai Rp 3 juta per bulan.

Sementara itu, istrinya memiliki penghasilan Rp 45 ribu per hari.

Namun, uang tersebut masih belum cukup untuk menutup biaya perawatan anaknya.

Kondisi ini membuatnya harus menjual salah satu ginjalnya.

Ia berharap ada orang yang membeli satu ginjalnya.

Rahmat berencana Jual Ginjal di Simpang Kampung Lalang untuk biayai pengobatan anaknya, Kamis (13/2/2020).

Rahmat beserta anak dan istrinya rela menyusuri jalan dengan mengalungkan karton yang bertuliskan, "Saya Jual Ginjal untuk Pengobatan Anak Saya".

Ia sesekali menawarkan pada pengendara motor dan mobil.

"Pak, saya berniat mau jual ginjal pak, berniat jual ginjal," ucapnya lirih kepada pengendara.

Tak hanya menjual ginjal, sebelumnya Rahmat juga pernah menjual darah di rumah sakit.

"Saya mendapatkan uang Rp 1 juta dan Rp 500 ribu dari dua kali jual darah," imbuhnya.

Rahmat yang tinggal di Jalan Cenderawasih, Gang Bogel, Dusun XVI Sentosa KM 12 Deliserdang, ini mengaku tak memiliki Kartu Indonesia Sehat.

"Saya terpaksa membayar BPJS mandiri. Ini pun sudah nunggak 2 bulan," jelasnya.

Anak Rahmat, Siti Rahayu sebenarnya memiliki kakak dan adik, namun keduanya sudah meninggal dunia.

"Anak saya pertama telah meninggal karena sakit panas tinggi juga dan adiknya juga."

"Kami tak sanggup membiayai pengobatannya," tutur Rahmat.

Rahmat mengaku selama ini dirinya tak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Rosmiel mengatakan, anaknya kerap sakit dan bolak-balik di rawat inap.

"Dia nangis, sampai bisa buang air di celana."

"Hingga umur 7 tahun ini belum bisa berbicara," pungkas Rosmiel Simatupang.

"Tak pernah ada bantuan. Macam mana lagi, BPJS ku sudah nunggak, aku peserta mandiri. Aku jual saja ginjal yang penting anakku bisa terurus," ujarnya.

Tanggapan Pemkab Deliserdang

Kisah seorang ayah menjual ginjal demi pengobatan anaknya menanggap tanggapan dari Pemerintah Kabupaten Deliserdang.

Dikutip dari Tribun Medan, Pemkab Deliserdang membantu Rahmad warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Sunggal, yang menjajakan menjual ginjalnya untuk biaya pengobatan anaknya, Siti Rahayu (7).

Pemkab Deliserdang membantu keluarga Rahmat dengan diusulkan untuk menjadi peserta dengan status Penerima Bantuan Iuran (PBI).

"Sudah kami usulkan BPJS-nya ke PBI sekarang ini. Ya, lagi proses peralihan status lah sekarang ini di Dinas Sosial. Kan ada waktunya, yang jelas sudah kita bantu lah. Saya juga kemarin sudah datang ke rumahnya untuk memastikan kondisi keluarga ini," ujar Camat Sunggal Ismail yang ditemui di Kantor Bupati Deliserdang, Senin, (17/2/2020).

Ismail mengatakan setelah mengunjungi kediaman Rahmat, Minggu, (16/2/2020) siang ternyata tidak ada hal urgen yang mengharuskan ia harus menjual ginjalnya demi pengobatan anaknya.

"Sempatnya saya tanya kenapa mau jual ginjal, ya katanya untuk pengobatan anaknya yang sakit efilepsi. Anaknya butuh biaya terapi di rumah sakit juga, sekali terapi katanya Rp 50 ribu. Saya bilang sama dia kalau memang seperti itu biar saya yang bantu."

"Itulah dia mau jual ginjal termasuk untuk beli popok anaknya juga. Kalau untuk BPJS Kesehatannya baru dua bulannya tidak dibayarkan dan ini sudah dibantu. Intinya enggak ada hal urgen sehingga harus jual ginjal Dia dulu ini pun sempat pindah pindah sehingga tidak masuk data (miskin)," kata Ismail.

Sementara itu Kadis Kesehatan Deliserdang, dr Ade Budi Krista mengungkapkan bahwa anak Rahmad sebenarnya sudah dalam jangkauan petugas Puskesmas.

Karena kondisinya memang susah Puskesmas pun sudah memberi bantuan Pemberian Makan Tambahan (PMT) untuk anaknya.

"Anaknya memang sakit efilepsi dan ada kelainan saraf sehingga tidak bisa tahan lama berjalan. Karena sudah mendapat PMT artinya dia sudah jangkauan pelayanan puskesmas.

Sudah sering petugas kita datangi rumahnya dan menyampaikan agar anaknya dibawa ke Puskesmas tapi ibunya diam saja.

Kalau pemeriksaan di rumahkan paling hanya pemeriksaan luar saja tapi kalau di puskesmas bisa lebih mendalam dan bisa kita ambil darahnya untuk diketahui apakah ada penyakit lain atau tidak," kata dr Ade.

Menurut dr Ade, keputusan Rahmat untuk menjual ginjal tidak dibenarkan.

"Logikanya efilepsi itu tidak perlu tindakan operasi dan lain-lain, kenapa harus jual ginjal? Ini bukan penyakit yang butuh biaya besar karena di Puskesmas pun bisa asal rutin datangnya dan obat pun tidak putus. Untuk sehari-hari penyakit ini bisa dirawat, cukup di kasih obat secara teratur insallah baik dan tidak akan kambuh. Untuk bisa sembuh kan kita harus perlu tadi dibilang diambil dulu darahnya," kata dr Ade.