Hukum Pemilik Toko Memakai Trotoar di Depan Tokonya


Sering kita temui beberapa toko di pinggir jalan raya menggunakan toroar trotoar di depan toko mereka. Artinya, pemilik toko itu mengambil bahu jalan atau mengambil tanah diluar batas tokonya.
Lalu bagaimana hukumnya? Apakah haram jika tetap memajang barang dagangannya?
Menggunakan trotoar demi memperlebar toko dan digunakan layaknya milik pribadi pmilik tokok, maka hukumnya haram dan tidak boleh karena itu termasuk perbuatan dzolim yang bisa dikatakan mengambil tanah yang bukan haknya.
مَنْ أَخَذَ مِنَ الْأَرْضِ شَيْئًا بِغَيْرِ حَقِّهِ خُسِفَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى سَبْعِ أَرَضِينَ
“Barang siapa yang telah mengambil sebagian tanah yang bukan menjadi haknya, maka akan dibenamkan dengannya pada hari kiamat sampai tujuh bumi”. (HR. Bukhori: 2454)
Tapi hukumnya menjadi boleh menggunakan trotoar untuk berdagang atau memajang barang dagangan diatas trotoar untuk berjualan saja.
Tapi itu jika mendapat izin atau pemerintah setempat tidak mempermasalahkan pedangan berjualan diatas trotoar dan sudah menjadi kebiasaan masyarakat.

Syarat yang lain, jika keberadaan pedangan diatas trotoar tidak sampai mengganggu orang yang lewat atau pejalan kaki yang biasa menggunakan trotoar tersebut.
Hukum bolehnya menggunakan trotoar untuk berdagang ini berdasarkan pendapat Ibnu Qudamah berikut ini:
“Yang termasuk jalan raya, trotoar di antara gedung-gedung, maka tidak seorang pun boleh membangun di atasnya –seperti membangun bangunan di atasnya atau menggunakannya seperti miliknya sendiri- baik yang berukuran luas maupun yang sempit, baik yang mempersempit jalannya orang yang lewat maupun tidak; karena ruang tersebut dimiliki oleh semua umat Islam, berkaitan dengan kemaslahatan mereka, maka mirip dengan masjid mereka. Namun boleh menggunakan fasilitas tersebut jika ruangnya luas untuk jual beli tapi jangan sampai mempersempit jalan dan membahayakan mereka, karena kesepakatan semua penduduk kota pada semua masa untuk mengakui hal itu tanpa ada pengingkaran, dan karena hal itu merupakan fasilitas mubah yang tidak membahayakan, maka tidak dilarang seperti orang yang melawatinya”. (al-Mughni: 8/161)