Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Simpati Mengalir, Satu Keluarga Mualaf Asal Tapanuli Senang Tempati Rumah Sementara di Aceh Selatan

 Gubuk sangat sederhana sebagai tempat tinggal Arbulan di pinggir Jalan Nasional, Desa Ujong Blang, Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan, menampung muallaf Fatimah Telaum Banua (39) bersama tujuh putrinya, Kamis (17/9/2020). Ibu asal kawasan terpencil di Padang Sidempuan, Tapanuli Selatan, Sumut ini mengucapkan kalimat syahadat di Masjid At-Taqwa Manggeng, Abdya, Sabtu (12/9/2020) lalu itu keluarga asal Tapanuli Selatan, Sumatera Utara yang masuk Agama Islam di Masjid At-Taqwa, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), sejak sembilan hari lalu, kini sudah menempati rumah penampungan sementara di Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan.



Setelah mengucapkan kalimat syahadat, Fatimah Telaum Banua (39) bersama tujuh putrinya menumpang di pondok kecil yang ditempati abang kandungnya, Arbulan Telaum Banua (46) bersama istri dan dua anaknya.

Gubuk kecil ukuran sekitar 2,5 x 6 meter itu berdiri di pinggil Jalan Nasional, Dusun Ujong Blang, Desa Kuta Trieng (Kuburan Syahid), Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan.

Mualaf Fatimah yang dikaruniai 10 anak dari penikahan dengan Eti Sama Gea (44) sebelumnya tinggal membuka kebun di areal hutan Morsa kawasan sangat terpencil Desa Gunung Baringin, Kecamatan Angkola Selatan, Padang Sidempuan, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Ibu kelahiran Gunung Sitoli 28 Februari 1981 ini nekad meninggalkan lokasi terpencil itu untuk pindah keyakinan di tempat tinggal abang kandungnya di Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan. Fatimah pun memboyong tujuh putrinya, yaitu anak nomor 3, 4, 6, 7, 8, 9 dan 10 (bungsu).

Sedangkan anak nomor 1 dan 2 sudah berkeluarga, termasuk suami dan anak nomor 5 laki-laki masih tinggal hutan Morsa kawasan sangat terpencil di Padang Sidempuan, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Konon, sang suami Eti Sama Gea (44) dan anak nomor 5 laki-laki, Yusafat Gea yang bersekolah SMP di Padang Sidempuan, segera menyusul Fatimah untuk memeluk Agama Islam.

Seperti disebutkan Arbulan Telaum Banua bahwa sejak lahir sang adik (Fatimah) beragama Islam, namun kemudian pindah keyakinan karena menikah dengan laki-laki nonmuslim.

“Adik saya ini sejak lahir beragama Islam dengan nama Fatimah. Lalu, pindah keyakinan saat menikah dengan suami non-muslim, tapi namanya tidak berubah. Kami empat bersaudara, yang bungsu Fatimah,” kata Arbulan Telaum Banua kepada Serambinews.com.

Arbulan ketika dihubungi kembali Serambinews.com, Minggu (20/9/2020) sore menjelaskan kalau Fatimah bersama tujuh putrinya sangat senang bisa menempati rumah penampuangan sementara sejak Sabtu (19/9/2020).

Rumah tua daalm kondisi kosong sebagai tempat tinggal sementara delapan mualaf tersebut berjarak hanya 200 meter dari gubuk kecil yang ditempati Abulan dan keluarga di Dusun Ujong Blang, Gampong Kuta Trieng, Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan.

Rumah kosong dengan 4 kamar ditambah ruang tamu dan ruang dapur lengkap dengan fasilitas listrik adalah milik warga Labuhan Haji Barat dan sekarang berada di Malaysia.

Rumah penampungan sementara itu diupayakan oleh Camat Labuhan Haji Barat, H Said Suhardi bersama Anggota Muspika setempat, setelah mendapat kabar jika 8 mualaf asal Tapanuli Selatan itu menempati gubuk kecil yang sangat tidak layak.

Arbulan menjelaskan, selain menyediakan rumah penampungan sementara untuk Fatimah dan putrinya, Camat Labuhan Haji Barat, Said Suhardi menyerahkan bantuan beras, termasuk kasur dan pakaian anak-anak, Sabtu malam.

Bantuan sebagai rasa simpati terhadap ibu bersama tujuh putrinya yang sudah mualaf itu dikatakan terus mengalir dari masyarakat, dan tokoh masyarakat, teramsuk pedagang.

“Ada yang menyerahkan bantuan kain, baju, pakaian anak-anak dan uang. Kami sangat berterima kasih,” ungkap Arbulan.

Pada Minggu hari tadi, juga ada sejumlah warga yang datang membantu, antara lain dari Tapaktuan, Aceh Selatan dan Blangpidie Abdya. “Tadi, ada datang menyerahkan bantuan uang dalam amplop dari Abdya Mengaji,” kata Arbulan.

Sebagai catatan Arbulan yang saat ini menjadi pendamping adiknya yang baru mualaf sebenarnya masih tercatat sebagai warga Desa Padang, Kecamatan Manggeng, Abdya.

Selama hampir enam tahun terakhir, Arbulan bersama istri, Syamsidar dan dua anaknya, Saumi Rahmadani, siswi kelas III SMP dan M Thavid siswa kelas I SMP di Manggeng, menempati pondok berukuran sekitar 2,5 meter x 6 meter lokasi di pinggir Jalan Nasional.

Gubuk tidak layak sebagai tempat tinggal itu berdiri di atas sisa tanah berem Jalan Nasional yang diapit saluran irigasi berseberangan dengan tanah milik almarhum Teuku Jakfar.

Lokasi gubuk tersebut di Dusun Ujong Blang, Desa Kuta Trieng (Kuburan Syahid), Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan atau kawasan perbatasan dengan Kabupaten Abdya.

Arbulan mengaku sudah mengurus sudah pindah dari Desa Padang, Manggeng ke daerah asal istrinya di Desa Tengah, jujga masih wilayah Kecamatan Manggeng, Abdya.

Arbulan mengatakan kalau adiknya (Fatimah) bersama tujuh putrinya berharap tinggal tidak jauh-jauh dari tinggal dengan tempat tinggal dirinya.

“Sebagai warga baru, dia (Fatimah) ingin tinggal tak jauh dari saya. Sementara saya sendiri juga juga tak punya rumah tempat tinggal di Abdya,” katanya.

Masih menurut Arbulan, suami Fatimah bersama anak nomor 5 yang laki-laki segera menyusul di Labuhan Haji, Aceh Selatan dengan tujuan mengucapkan kalimat syahadat.

Rencana sang suami bernama Eti Sama Gea dan anaknya yang laki-laki (Yusafat Gea) bertolak ke Aceh pada hari Senin ini, namun terkendala mengurus surat pindah sekolah anaknya, Yusafat Gea dari salah satu SMP di Padang Sidempuan,Tapanuli Selatan.

“Pihak sekolah meminta uang pindah sebesar Rp 300.000. Mana ada uang dia, sementara biaya transportasi ke Aceh saja sulit dipenuhi,” ungkap Arbulan.(*)

Sumber : Serambinews.com