Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hidup Sendiri, Mbah Sarani Sampai Makan Kapuk Kasur Ketika Lapar

Ya, kata-kata bahkan tak bisa menggambarkan kisah hidupnya, karena saking sedih dan pahitnya.

Bayangkan, setiap hari, Mbah Sarani melewati hidupnya seorang diri di dalam rumahnya yang berada di Kampung Priuk, Desa Singamerta, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Banten.

Namun bukan itu yang jadi permasalahan utamanya, melainkan ketidakberdayaan Mbah Sarani.

Tubuh yang sudah tua dan melemah membuat dia tak lagi bisa bekerja. Sehingga untuk urusan makan dan minum, dia hanya mengandalkan belas kasihan dari Mbok Khatidjah.

Dan itu pun, bantuan makan dan minum dari Mbok Khatidjah tak selalu ada di setiap harinya, karena dia juga hidup pas-pasan, sebagaimana dilansir Warta Kota.

Hal inilah yang terkadang membuat Mbah Sarani nekat memakan kapuk dari bantal dan kasur, demi bisa mengganjal perutnya.

Bahkan yang lebih menyedihkan, Mbah Sarani pernah sampai keluar rumah dalam keadaan telanjang, menyusuri jalanan aspal dengan merangkak hingga membuat kakinya berdarah, untuk meminta makan.

“Sedikit cerita dari si mbah, waktu bulan puasa kemaren, tak ada yang memberinya makan sampai mbah merangkak keluar rumah ke jalanan telanjang teriak-teriak minta makan. Sampai dengkul dan jari-jari kakinya pada berdarah kena jalanan aspal,” demikian tulis keterangan akun Instagram @yuni.rusmini, Jumat (12/6).

Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui bagaimana kelanjutan nasib Mbah Sarani selepas kisahnya diangkat ke media sosial. Apakah sudah tertolongkan oleh pihak dermawan yang mengulurkan bantuan atau belum.

Kisah miris dialami Mbah Sarani yang sempat kelaparan hingga makan kapuk bantal. Kakek yang kini berusia 74 tahun tersebut saat ini diketahui tinggal sendirian di Kampung Priuk, Serang, Banten.

Cerita miris yang dialami Mabah Sarani itu mulanya dibagikan oleh pengguna Facebook Sophia Imaliawati. Dalam unggahannya, ia menuturkan kondisi Mbah Sarani sangat mengenaskan. Bahkan, ia pun sering kelaparan dan hanya minum air saja.

Kakek tersebut pun diketahui tinggal sebatang kara. Adapun istrinya sudah sudah meninggal. Sementara dari pernikahannya, ia tidak memiliki anak.

Disebutkan, hanya Santijah (60) dan Bakriah (40) yang biasa merawat Mbah Sarani. Bahkan, dua orang tersebut sejatinya juga punya kehidupan yang pas-pasan. Kendati demikian, keduanya biasa membantu Mbah Sarani yang saat ini sudah kesulitan berjalan. Ia hanya bisa merangkak.

Bulan puasa lalu, Mbah Sarani mengalami masa yang sulit. Akibat pandemi virus corona, orang yang biasa memberinya makanan tidak lagi datang. Karena kelaparan, demi mengganjal perut, ia sampai nekat memakan kapuk dari isi bantal dan kasurnya.

Beberapa kali Mbah Sarani yang tak kuasa menahan lapar sampai harus merangkak keluar rumah. Ia berusaha keluar meminta makan kepada para tetangga. Hal itu membuat jari-jari dan lutut Mbah Sarani sampai berdarah lantaran merangkak di aspal.

Ketika masih sehat, diketahui Mbah Sarani merupakan penjual cobek. Namun, ia berhenti jualan setelah dirinya mengalami kecelakaan tertabrak motor. Akibatnya, pinggul Sarani bermasalah dan memaksanya untuk lebih sering berbaring di tempat tidur.

Sejak itu juga Mbah Sarani lebih banyak berkegiatan di kasur. Ia tak bisa mandi dan buang air besar sendiri. Beruntung masih ada nenek Santijah dan keponakan Sarani, Bakriah, yang sabar mengurus.

Santijah yang merupakan adik dari Mbah Sarani mengaku mereka mendapat bantuan sosial (bansos) dari pemerintah sebesar Rp 500 ribu. Namun, masih dalam proses pencairan. Terlepas dari itu, belum diketahui pasti terkait kebenaran cerita yang sempat ramai di media sosial

Sebelumnya Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial menyebut tengah mempersiapkan langkah aksi percepatan penangan kemiskinan esktrem dampak pandemi. Cara yang ditempuh yaitu dengan penguatan bantuan sosial, sinergi antar-kementerian dan lembaga, dan penguatan SDM kesejahteraan sosial.

Sumber: kumparan. com