Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Janji Allah Kepada Orang yang Menikah Dipertanyakan

Sebenarnya timbulnya pertanyaan ini bukan dikarenakan saya meragukan akan janji-janji Allah swt. kepada setiap hamba-hamba-Nya. Melainkan saya hanya ingin meminta alasan yang cukup masuk akal, mengenai ayat yang berisi janji Allah swt. bagi setiap orang yang menikah dengan dilimpahkan rizkinya. Lalu bagaimana jika seandainya fakta yang terjadi seakan-akan malah sebaliknya. Sekali lagi saya bertanya  seperti ini bukan berarti saya ragu. Sebab saya yakin Allah swt. tidak pernah mengingkari janji-janji-Nya.

Pertanyaan:
Tolong jelaskan. Bagaimana sebanarnya maksud ayat yang berisi janji kepada orang yang menikah ?

Jawaban:
Dalam surat an-Nur Allah swt. memang telah berfirman

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian  diantara kamu, dan orang-orang yang layak  dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah swt. akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas  lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur : 32)

Surat di atas, Allah swt. telah berjanji kepada hambanya yang telah menikah akan dilapangkan rizkinya. Namun jika ternyata ada seorang yang telah menikah akan tetapi keadaan ekonominya tetap seperti sebelum menikah.

Apakah berati Allah swt. telah mengingkari janji-Nya. Jawabannya tentu saja tidak. Sebab, Allah swt. tidak akan pernah mengingkari janji-janjinya. Sebagaimana firmannya:

Janji yang sebenarnya dari Allah. Allah  SWT. tidak akan menyalahi janj-iNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum : 06)

Adapun maksud ayat yang berbunyi “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karurnia-Nya”. Maka, seperti yang ditemukan temukan dalam beberapa kitab tafsir, ternyata ulama beda pandangan dalam menginterpretasi ayat di atas.

Seperti halnya, al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami’ul li Ahkam Al-Qur’an. Beliau menulis beberapa kemungkinan mengenai arti Al-Ghina (kaya). Diantaranya,

Pertama: Kaya dengan arti sesungguhnya meskipun tidak selamanya.

Kedua: Kaya dengan artian dianugerahkannya keadaan jiwa yang tenang bagi seorang yang menikah. Hal itu sejalan dengan sabda nabi:

Kaya bukan di karena banyaknya harta, akan tetapi kaya ialah kayanya jiwa” (HR. Muslim)

Ketiga: Kaya dengan arti dilapangkan rizkinya, namun hal itu masih ditangguhkan terhadap kehendak Allah.

Keempat: Kaya dengan arti diberikanya pasangan yang halal sehingga terpelihara dari perbuatan zina.

Dalam Tafsir Rawai’ Al-Bayan ketika membahas masalah At-Targhib Fi Az- Zawaj Wa At-tahdzir ‘Ala Al-Bigha’ Ali As-Shabuni pun kelihatannya lebih condong terhadap penafsiran yang ketiga, yaitu dengan dilapangkannya rizkinya bagi seorang yang menikah.

Menurut Ali As-Shobuni ayat ini turun sebagai motivasi kepada seorang yang takut menikah dikarenakan tidak mampu secara finansial. Sebab asumsi yang berlaku, adanya keluarga sangat mempengaruhi terhadap status ekonominya seorang.

Sehingga ayat ini seakan-akan ingin membantah asumsi tersebut. Namun, jika ternyata ada seorang yang menikah dan keadaanya tetap miskin atau malah tambah miskin.

Maka menurutnya itu bukan berarti Allah telah mengingkari janjinya. Sebab janji itu masih ditangguhkan terhadap “kehendak” Allah swt.. Itu terbukti dari adanya ayat lain yang berbunyi:

Maka Allah SWT. nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki.” (QS. at-Taubah : 28).

Ali As-Shobuni juga berpendapat ayat yang berisi janji tersebut, oleh Allah di tutup dengan kata-kata Wallahu waa si’un ‘alim, bukan Wallahu waa si’un karim yang mengindikasikan bahwasanya Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya.

Sebab dalam masalah rizki, hanya Allahlah yang mempunyai hak otoritas untuk menentukan banyak sedikitnya.

Sumber: ngajionline.net