Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rumahnya Dirobohkan Developer, Kakek 60 tahun ini hanya bisa pasrah Tinggal digubuk reot

 

Seorang pria berusia 66 tahun hanya bisa berpasrah tinggal di gubuk sementara yang dibangunnya sendiri dengan kayu daur ulang dan seng yang berasal dari rumah lamanya.

Pria yang bernama Muhammad Yusof Jidan menempati gubuk bobrok itu sejak rumahnya dibongkar oleh developer perusahaan setahun yang lalu.

Gubuknya yang sekarang sudah bobrok terlihat seperti kandang kambing dan dibangun di atas tanah orang lain setelah dia meminta izin untuk itu. Bekas kediamannya yang dibangun di atas tanah pemerintah di Kampung Sri Keramat dekat Pasir Puteh, Malaysia itu dibongkar oleh developer.Baca Juga:

Muhammad Yusof yang tinggal sendiri mengaku hanya diberi 1.000 ringgit atau setara Rp3,5 juta oleh developer saat digusur, sedangkan tanah ganti yang seharusnya ia terima tidak diberikan.

Menurut surat yang dibagikan kepada penduduk pada tahun 2002 ketika proyek tersebut direncanakan, mereka yang digusur seharusnya menerima kompensasi sebesar 10.000 ringgit (Rp35 juta) atau setara 30.000 ringgit atau Rp106 juta.

Muhammad Yusof menjelaskan bahwa ia dulu pernah tinggal sementara di Surau Al Karomah di Kampung Sri Keramat sebelum Imam, Abdul Rasyid Ali mengizinkannya untuk membangun sebuah gubuk di tanahnya tidak jauh dari surau.

“Saya mandi di masjid, dan kalau malam saya sakit perut, saya harus ke surau karena gubuk itu hanya sebagai tempat berteduh. Pada siang hari, sangat panas sedangkan pada malam hari sangat dingin,” dia berkata.

Muhammad Yusof, yang bekerja di desa dan membantu di surau, bertahan hidup dengan bantuan bulanan dari Baitulmal (badan pendanaan Muslim untuk kesejahteraan umat Islam) sebesar 300 ringgit (Rp1 juta) dan Departemen Kesejahteraan Sosial (JKM) sebesar 500 ringgit (Rp1,7 juta).

Dia pernah menikah tetapi tidak memiliki anak dan telah lama berpisah dengan mantan istrinya. Dia mengatakan telah beberapa kali mengajukan permohonan penggantian tanah ke Kantor Menteri Utama, tetapi belum mendapat tanggapan.

Meski ditawari untuk tinggal di panti asuhan, Muhammad Yusof menolak karena ingin hidup mandiri seperti orang lain. Dia juga mengatakan bahwa jika dia diberi sebidang tanah, dia akan memberikannya ke masjid setelah dia meninggal.