Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerita Pilu Seorang Kakek yang Tak Bisa Bicara, Sering Kelaparan dan Hidup di Bongkaran Rumah

Beliau harus bertahan hidup seorang diri dengan menjadi kuli serabutan di usianya yang sudah senja.

Tak semua orang bisa menikmati masa tua dengan tenteram bersama keluarga dalam kondisi yang berkecukupan. Kakek berikut ini justru harus bertahan hidup seorang diri meski beliau memiliki keterbatasan.

Beliau adalah Kakek Tarwadi yang kini usianya sudah mencapai 59 tahun. Di usianya yang sudah senja ini beliau pun harus bertahan hidup dengan menjadi kuli serabutan untuk mendapatkan rezeki.

Sebenarnya, dulunya beliau mempunyai sebuah rumah. Sayangnya, rumah itu kini sudah dijual oleh saudaranya untuk membayar utang. Beliau pun tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa pasrah karena kondisi beliau yang tunawicara dengan tubuh yang lemah.

Dilansir dari laman donasionline.id, beliau pun kini terpaksa tinggal di sebuah rumah yang tak layak huni, kotor dan juga sempit. Tiap malam tubuhnya yang sudah lemah ini pun harus menahan angin malam yang begitu dingin dan akan kebasahan saat hujan karena rumahnya tak mempunyai atap.

Beliau pun tidur tanpa beralaskan kasur sehingga makin terasa dingin dan seringkali tubuhnya sampai sakit semua. Beliau pun hidup sebatang kara dalam kondisi yang memprihatinkan seperti ini.

Agar bisa bertahan hidup, beliau pun harus bekerja dengan menjadi kuli serabutan di usianya yang sudah senja ini. Biasanya, beliau membersihkan kebun dengan upah Rp20 ribu per petak lahan kebun yang beliau kerjakan.

Dengan penghasilan yang tak menentu, beliau kerap harus menahan lapar dan hanya bisa minum seteguk air putih dalam kondisi perut yang melilit. Kakek Tarwadi memang tak mau menjadi beban keluarganya dan beliau lebih memilih tinggal di bongkaran rumah seperti ini.

Di bulan Ramadan seperti ini, beliau seringkali bingung harus sahur dan buka puasa dengan apa karena tak ada yang bisa dimakan.