Curhat Viral Ibu Korban Tabrak Lari, Anak Tewas, Pelaku Tak Mau Tanggung Jawab

Curahan hati seorang ibu di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara yang anaknya tewas akibat kecelakaan viral di media sosial. Pelaku tabrak lari menghilang tak mau tanggung jawab.Iklan – Artikel dilanjutkan di bawah

Ibu bernama Silvanita Dwisari Puteri itu mengingat peristiwa 24 Desember 2021. Jelang malam Natal, dia mengantar putranya Imanuel Maramis (6) atau El mengantre di pangkas rambut depan Gereja GMIM Alfa Omega Tumpaan, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

Tiba-tiba, dari arah Kotamobagu menuju Manado, sebuah mobil berwarna putih melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil kemudian oleng ke arah bahu jalan dan menabrak empat motor dan dua mobil yang terparkir, kemudian menabrak Silvanita bersama anaknya. 

Curhat Viral2
Korban tewas tabrak lari di Minahasa Selatan. (Foto: Subhan Sabu)

Ibu dan anak itu ikut terseret di bawah kolong mobil sejauh empat meter sebelum akhirnya mobil berhenti setelah menabrak tiang. Keduanya kemudian dievakuasi warga dalam kondisi luka parah dan segera dilarikan ke RSUP Prof Kandouw, Malalayang. 

Setelah tujuh hari mendapat perawatan intensif, El mengembuskan napas terakhirnya pada 31 Desember 2021 sekitar pukul 29.30 WITA.

Sementara kondisi Silvanita masih sangat memprihatinkan waktu itu. Yang lebih memiriskan lagi, pelaku tabrakan yakni JW (32), warga Kecamatan Bolangitan, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, yang sebelumnya telah berjanji akan mempertanggungjawabkan perbuatannya kini bagai hilang ditelan bumi. 

Padahal, pelaku sudah berjanji untuk membayar biaya administrasi selama perawatan di rumah sakit. Bahkan, pelaku juga berjanji akan membayar biaya mengeluarkan jenazah adik El dari rumah sakit untuk dimakamkan. Sayangnya, saat dihubungi kembali, nomor telepon yang diberikan sudah tidak aktif.Iklan – Artikel dilanjutkan di bawah

“Sekarang di mana iktikad baik kalian setelah semua ini terjadi. Anak saya meninggal kalian janji akan membayar biaya administrasi untuk mengeluarkan anak saya dari rumah sakit karena memang ada operasi kepala sampai satu minggu tidak sadar di ruangan PICU bukan sedikit biayanya,” tulis Silvanita di media sosial Facebook. 

“Kami cuma minta supaya anak saya boleh dikeluarkan dari rumah sakit, tapi kalian cuma janji sampai ditelepon-telepon sudah tidak aktif, kami keluarga yang berusaha sendiri supaya jenazah anak saya boleh keluar dari rumah sakit. Meninggal jam setengah sembilan malam keluar rumah sakti nanti besok pagi kasihan. Orangtua mana yang tidak sakit hati ada jadi begini,” katanya. 

Dalam curhatannya, Silvanita menanyakan hati nurani dari pelaku. Akibat kelalaian berkendara hingga menghilangkan nyawa anaknya.

“Alasan mengantuk, jangan bawa mobil kalau mengantuk. Berhenti, tidur kalau mengantuk. Bukan paksa bawa mobil, itu namanya kelalaian,” tulisnya. 

Menurutnya, dari meninggal hingga pemakaman anaknya, tidak ada tanggung jawab dari pelaku. Untuk pengobatan Silvanita yang hingga kini masih dirawat di rumah sakit, pelaku tutup mata.

Bahkan dia mengaku sempat ditawari uang Rp30 juta dengan syarat pelaku dibebaskan dari hukuman. 

“Sekarang kalian bilang kalian sediakan uang 30 juta tapi dibebaskan dari hukuman. Memang nyawa tidak bisa dihitung dengan nominal, tapi biaya rumah sakit sampai sekarang belum bisa kaliang tanggungjawab. Rp30 juta jauh dari biaya perawatan selama anak saya di rumah sakit. Telanjur sakit hati kami dengan cara kalian seperti ini,” ujarnya.